Rekomendasi Sekolah Tatap Muka dari IDAI agar Terhindar Virus Omicron
Beranda / Edukasi / Rekomendasi Sekolah Tatap Muka dari IDAI agar Terhindar Virus Omicron
Rekomendasi Sekolah Tatap Muka dari IDAI agar Terhindar Virus Omicron

Rekomendasi Sekolah Tatap Muka dari IDAI agar Terhindar Virus Omicron

Setelah munculnya varian Alpha, Gamma, hingga Delta yang sempat menghebohkan beberapa waktu lalu, kini dunia kedatangan kembali varian baru dari virus Covid-19, yakni Omicron (B.1.1.529).

Omicron diketahui terdeteksi pertama kali di wilayah Afrika Selatan setelah negara tersebut melaporkan adanya varian baru kepada WHO pada November 2021. Kini varian Omicron telah ditemukan di sejumlah negara di dunia, termasuk negara-negara di kawasan Eropa, Amerika Serikat dan Asia.

Dibandingkan dengan varian-varian sebelumnya, Omicron diduga memiliki tingkat penularan lebih tinggi. WHO pun menetapkan Omicron sebagai Variant of Concern. Artinya, varian baru ini mesti diwaspadai.

Sistem persekolahan di dunia yang telah terdampak pandemi selama hampir 2 tahun, wajib mengantisipasi kehadiran Omicron dengan mempersiapkan sejumlah strategi. Pasalnya, sejak wabah yang disebabkan varian delta yang mematikan mulai mereda, banyak sekolah di dunia telah kembali mengadakan pembelajaran tatap muka.

Baca Juga: Solusi Acer for Education untuk Membuat Hybrid Learning jadi Lebih Terjangkau

Rekomendasi IDAI untuk Sekolah Tatap Muka

Di Indonesia, sebagian besar sekolah telah menyelenggarakan sekolah tatap muka dengan kapasitas 50%. Bahkan di DKI Jakarta, seluruh satuan pendidikan di semua jenjang telah menggelar pembelajaran tatap muka terbatas sejak 15 November 2021.

Total jumlah sekolah yang sudah menggelar pembelajaran tatap muka mencapai 10.429 unit sekolah. Langkah pembelajaran tatap muka diambil untuk mengatasi permasalahan dalam pembelajaran online selama hampir 2 tahun pandemi berlangsung. Potensi learning loss akan semakin 

Selain itu, sekolah di Jakarta juga sudah menambah waktu belajar tatap muka yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan yakni waktu belajar siswa jenjang SMA ditambah dari lima jam menjadi tujuh jam, jenjang SMP naik dari empat jam menjadi enam jam, sedangkan jenjang SD bertambah dari tiga menjadi lima jam. Adapun waktu pembelajaran tatap muka jenjang PAUD naik dari dua jam menjadi tiga jam.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan agar semua pihak yang terkait betul-betul mempersiapkan diri dalam menjalankan kebijakan pembukaan sekolah tatap muka. Agar pembukaan kembali sekolah tatap muka tidak menyebabkan lonjakan kasus baru pasien corona di Indonesia, berikut ini saran yang diberikan IDAI seperti dikutip dari situs resminya:

1. Vaksinasi wajib dipenuhi bagi anak yang ingin mengikuti pembelajaran tatap muka.

2. Penggunaan masker secara benar direkomendasikan mulai anak berusia 2 tahun ke atas. Saat berkegiatan di dalam ruangan, masker wajib dikenakan. 

3. Menjaga jarak antar siswa saat berada di dalam kelas minimal 1,8 meter disertai penerapan protokol kesehatan secara disiplin

4. Strategi pencegahan secara berlapis yang harus dilakukan oleh seluruh stakeholders di sekolah. Berikut yang harus dipenuhi siswa:   

  • Skrining  sebelum  masuk  ke  dalam  lingkungan  sekolah.
  • Ventilasi  di  dalam ruangan  atau  menggunakan hepa  filter.
  • Rutin mencuci tangan.
  • Menerapkan etika  batuk.
  • Disiplin   tetap berada di rumah saat sakit.
  • Melakukan tes usap terhadap SARS-CoV-2 jika terindikasi contact tracing dikombinasi  dengan  karantina  dan  isolasi  terhadap  warga  sekolah  yang terpapar.
  • Uji  petik  secara  berkala.
  • Menerapkan protokol  kebersihan  dan  desinfeksi  khususnya pasca penutupan sekolah saat terdapat cluster sekolah.

5. Warga sekolah yang terdiri dari: siswa, guru dan staf yang menunjukkan tanda dan gejala infeksi harus dirujuk atau memiliki akses ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan uji diagnosis (tes usap) atau pun perawatan sesuai indikasi. 

6. Memiliki dan menerapkan pedoman   lokal   yang   digunakan   masing-masing   sekolah   menekankan   pada   strategi pencegahan secara berlapis dan konsisten, guna melindungi siswa, guru, staf, dan keluarga demi mendukung keberlangsungan pembelajaran tatap muka. 

7. Pemerintah  dan  pemangku  kebijakan  harus  menyiapkan dashboard data  yang  lengkap, akurat  dan  transparan  mengenai  transmisi  lokal,  cakupan  vaksinasi,  hasil  uji  petik  dan adanya outbreak atau cluster, sehingga dapat membantu pengambilan keputusan mengenai keberlangsungan  sekolah  tatap  muka  serta  protokol  kesehatan  dan  strategi  pencegahan yang harus dilakukan.  

8. Perilaku  disiplin  dalam  menjalankan  protokol  kesehatan  harus  dicontohkan  oleh  staf pengajar  dan  perangkat  sekolah  kepada  murid-muridnya.  Misalnya  pemakaian  masker, menghindari kerumunan, karena guru di sekolah-sekolah daerah masih banyak yang mengabaikan pemakaian masker, sehingga murid-murid juga ikut mencontoh. 

Baca Juga: Solusi Jelajah Ilmu Agar Komunikasi Guru dan Orang Tua Berjalan Lancar

Solusi Acer untuk Sekolah Tatap Muka yang Aman

Selain menyediakan solusi ekosistem pembelajaran digital, Acer juga menawarkan sejumlah solusi di bidang kesehatan yang dapat membuat pelaksanaan sekolah tatap muka jadi lebih aman dan sehat. Berikut adalah  rekomendasi produk dan ulasannya.

  • Acer Heatfinder


Ini merupakan produk deteksi suhu tubuh otomatis yang dapat dioperasikan secara contactless. Alat ini mampu mendeteksi suhu tubuh dalam jarak 100 cm hingga 200 cm. Acer Heatfinder cocok ditempatkan di luar kelas untuk membantu melakukan screening kesehatan bagi siswa yang akan masuk ke lingkungan sekoah. 


Kelebihan lain alat ini adalah kemampuannya untuk mengukur suhu tubuh beberapa orang sekaligus, bahkan dalam kondisi objek bergerak sekalipun. Selain itu, Acer Heatfinder dapat memberikan peringatan otomatis ketika objek memiliki suhu tubuh di atas ambang normal.

Dengan teknologi kesehatan pendeteksi suhu tubuh yang dilengkapi software T-Guard ini, sekolah dapat mendeteksi adanya kejadian dan melakukan prediksi akan risiko lebih 

  • Acer Pure Cool


Acer Pure Cool merupakan 2-in-1 air circulator yang juga berfungsi sebagai pemurni udara (air purifier). Alat ini dirilis oleh AcerPure Inc yang merupakan unit bisnis terbaru dari Acer yang fokus kepada perangkat teknologi kesehatan. 

Acer Pure efektif bekerja untuk ruangan dengan luas 30 meter persegi (m2), yang dapat ditingkatkan menjadi AcerPure Pro dengan kemampuan menangani ruangan seluas 100 m2.

Nah, demikianlah ulasan mengenai teknologi kesehatan yang dapat membantu sekolah mencegah penularan Covid 19 di sekolah. Jika Anda tertarik, hubungi Acer sekarang juga dapat dapatkan informasi dan penawaran lengkapnya.

Baca juga: Program Guru Penggerak 2022, Ini Syarat dan Keuntungan yang Diperoleh Guru