Problem Based Learning, Metode Belajar Yang Dapat Tingkatkan Keaktifan Siswa
Beranda / Edukasi / Problem Based Learning, Metode Belajar Yang Dapat Tingkatkan Keaktifan Siswa

Problem Based Learning, Metode Belajar Yang Dapat Tingkatkan Keaktifan Siswa

Problem Based Learning, Metode Belajar Yang Dapat Tingkatkan Keaktifan Siswa

Problem Based Learning (PBL) dalam bahasa Indonesia disebut Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM). Pembelajaran Berbasis Masalah adalah metode mengajar dengan fokus pemecahan masalah yang nyata, proses dimana murid melaksanakan kerja kelompok, umpan balik, diskusi yang dapat berfungsi sebagai batu loncatan untuk investigasi dan penyelidikan dan laporan akhir. Dengan demikian peserta didik di dorong untuk lebih aktif terlibat dalam materi pembelajaran dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis.

Anda mungkin merasa bingung dengan istilah metode pembelajaran yang lain yaitu Project Based Learning, perbedaan Problem Based Learning dan Project Based Learning bisa dilihat dari karakteristik dari masing-masing metode belajar berikut ini:

Karakteristik Project Based Learning (PjBL)

Project Based Learning (PjBL) memiliki karakteristik yang membedakannya dengan model-model pembelajaran yang lain, yaitu:

  1. Pada Project Based Learning ini, proyek menjadi pusat dalam pembelajaran. Berfokus pada pertanyaan atau masalah yang mengarahkan siswa untuk mencari solusi dengan konsep atau prinsip ilmu pengetahuan yang sesuai.
  2. Siswa membangun pengetahuannya dengan melakukan investigasi secara mandiri dan guru berperan sebagai fasilitator.
  3. Project Based Learning menuntut keaktifan siswa karena model pembelajaran ini berpusat pada siswa atau student centered. Siswa bertindak sebagai problem solver dari masalah yang dibahas.
  4. Kegiatan siswa difokuskan pada kegiatan yang menyerupai situasi yang sebenarnya. Aktivitas ini mengintegrasikan tugas-tugas otentik untuk menghasilkan sikap profesional.

Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

  1. Bersifat students-centered atau berpusat pada siswa.
  2. Dapat diselesaikan dalam waktu yang pendek (singkat) atau tidak terlalu lama.
  3. Kegiatan dimulai dengan sajian masalah yang harus dipecahkan atau dipelajari lebih lanjut oleh murid. Masalah yang disajikan seringkali dibingkai dalam skenario atau format studi kasus. Masalah biasanya akan dirancang dengan meniru kompleksitas permasalahan di kehidupan nyata. Tugas belajar yang dilakukan siswa pun sangat bervariasi dalam cakupan, waktu dan kecanggihan.
  4. Hasil akhirnya adalah solusi dari masalah yang diberikan dan tidak harus dalam bentuk produk khusus. Bisa saja hasil akhirnya berupa tulisan atau presentasi.

Langkah Problem Based Learning

Bagaimana langkah-langkah metode pembelajaran Problem Based Learning ini? 

  1. Orientasi siswa pada masalah
    Pertama, Anda bisa menyampaikan pada siswa tentang tujuan pembelajaran yang ingin Anda capai. Kemudian, sajikan sebuah masalah yang harus dipecahkan siswa. Masalah tersebut digunakan untuk meningkatkan rasa ingin tahu, kemampuan analisis, juga inisiatif. Berikan masalah yang sekiranya murid bisa memecahkannya dan tidak melebihi kapasitas murid untuk menjawabnya, jadi pastikan setiap murid paham berbagai istilah serta konsep yang ada dalam masalah yang diajukan. 
  1. Mengorganisasi siswa
    Setiap anggota dalam kelompok akan menyampaikan informasi yang sudah dimiliki perihal masalah yang ada. Kemudian, akan terjadi diskusi yang membahas setiap informasi yang dimiliki setiap murid. Dalam tahap ini, brainstorming bisa dilakukan. Guru bisa membantu siswa untuk mengorganisasikan tugas belajar yang relevan dengan masalah yang disajikan dan juga berperan sebagai pemberi motivasi agar setiap murid terlibat langsung dalam pemecahan masalah.
  1. Membimbing penyelidikan
    Guru dapat mendorong siswa dalam pengumpulan informasi yang relevan, melaksanakan eksperimen, hingga mendapat insight untuk pemecahan masalah.
  1. Mengembangkan hasil karya
    Membantu siswa ketika proses perencanaan dan penyajian karya. Beberapa di antaranya video, model, laporan, dan membagi tugas di antara anggota dalam kelompok.
  1. Analisis dan evaluasi
    Arahkan siswa untuk melakukan refleksi dan evaluasi dalam setiap proses yang dijalankan dalam penyelidikan.