Pandemi Pacu Burnout Pada Guru? Berikut Tips Mengatasinya
Beranda / Edukasi / Pandemi Pacu Burnout Pada Guru? Berikut Tips Mengatasinya
Pandemi Pacu Burnout Pada Guru? Berikut Tips Mengatasinya

Pandemi Pacu Burnout Pada Guru? Berikut Tips Mengatasinya

Selama pandemi Covid 19, aktivitas belajar mengajar mengalami perubahan paling ekstrim yaitu ketika seluruh kegiatan harus dilakukan secara online. Hal ini tentu tak mudah bagi seorang guru yang harus membagi waktu antara menyiapkan bahan mengajar digital, mengajar online, mengurus administrasi, belajar hingga urusan kehidupan pribadinya.

Waktu yang terbatas berkejaran dan peran yang berganti-ganti kerap memicu burnout pada seorang guru. Bila tak diatasi dengan bijak dan segera, guru bisa menghadapi masalah kesehatan mental.

Apakah Anda mengalaminya? Atau Anda merasakan kelelahan yang hebat secara fisik dan mental tapi masih ragu? Untuk mengetahui dan menakar sejauh mana kesehatan mental Anda, berikut  penjelasan yang harus disimak.

Mengenal Istilah Burnout 

Covid-19 tak hanya soal masalah kesehatan fisik, melainkan juga mental. Guru menjadi salah satu profesi yang rentan terhadap gangguan kesehatan mental. Banyak guru mengatakan, karena proses belajar dilakukan secara online, pekerjaan justru terasa seperti 24 jam 7 hari. Hal ini yang memicu burnout pada guru.

Tapi, apa sebenarnya burnout?  Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), burnout adalah kelelahan yang dirasakan akibat bekerja secara berlebihan. Mereka yang mengalami burnout biasanya merasa kehilangan motivasi dan kehabisan tenaga serta kemampuan untuk perfikir.

WHO menyebut burnout sebagai sindrom stres kronis akibat bekerja. Lebih lanjut disebutkan, burnout terjadi karena seseorang belum berhasil mengelola waktu secara baik dan menerapkan manajemen stres. Akibatnya timbul perasaan lelah berkepanjangan, terasing dari pekerjaan dan merasa kinerjanya buruk di tempat kerja.

Baca juga: 7 Karakter Guru Ideal Masa Kini

Hal yang Dapat Meningkatkan Stres Guru di Masa Pandemi

Belajar jarak jauh yang dilakukan selama pandemi Covid-19 ternyata dapat memicu rasa lelah berlebihan pada guru. Ini terjadi karena tidak adanya keseimbangan antara kehidupan pribadi dan kerja.

Peran guru yang bukan hanya mengajar tapi melatih, mengawasi dan membimbing murid-murid ditambah harus juga memeriksa tugas-tugas tentu tidaklah mudah. Pekerjaan tersebut terkadang dilakukan dari pagi hingga malam. Belum lagi orang tua murid yang menuntut komunikasi intens dan pekerjaan administrasi lainnya.

Selain tuntutan profesi di atas, guru juga harus membagi peran entah menjadi seorang ibu atau ayah. Hal ini juga menyita waktu, pikiran dan tenaga. Sehingga, jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan masalah kesehatan mental pada guru.

Berikut sejumlah masalah yang dihadapi guru dan memicu stres selama pandemi:

  • Tanggung Jawab BertambahBelajar di rumah menambah beban bagi guru. Tidak hanya persoalan akademik, guru dituntut menjadi duta literasi soal kesehatan muridnya. Dengan begitu tugas guru bertambah dalam hal memastikan muridnya sehat, sebab jika muridnya sakit akan mempengaruhi perkembangan studinya.

    Seolah bertanggung jawab akan kesehatan muridnya, guru merasa mendapatkan tugas baru mengingatkan dan mengawasi protokol kesehatan kepada muridnya.

  • Kurang Dukungan dari Lingkungan

    Di tengah upaya guru untuk beradaptasi dengan teknologi dan mempelajari metode mengajar yang sesuai dengan situasi, kurangnya dukungan dari lingkungan kerja akan menambah beban seorang guru.Guru harus berkejar-kejaran antara kebutuhan murid dengan kemampuan mereka untuk menyerap hal baru. Pelatihan, dukungan, bimbingan dan apresiasi sangat dibutuhkan agar guru tidak stres.
  • Kenakalan Murid Remaja

    Remaja masa kini juga memiliki tekanan yang cukup besar akibat kebutuhan untuk berinteraksi dan bersosialisasi yang tak terpenuhi. Hal ini dapat mengakibatkan munculnya masalah psikologis yang terlihat pada perilaku selama proses pembelajaran daring.Tidak sedikit murid yang berperilaku tidak sopan, membuat kekacauan hingga berperilaku agresif. Hal ini bisa menjadi beban tambahan yang memicu burnout.
  • Murid Lebih Pasif Saat Belajar Online

    Belajar dari rumah dapat membuat jenuh sebagian murid, sehingga proses belajar mengajar sering terhambat karena respons dari murid yang terkadang tidak antusias atau tak maksimal.Tidak dapat memantau secara fisik, guru tak dapat mengawasi bagaimana kondisi psikologi murid ketika menerima materi belajar. Maka dari itu, sering terjadi murid menjadi pasif dan tidak tercipta suasana kelas yang interaktif dalam belajar.
  • Beban Administrasi yang Meningkat

    Seperti kita ketahui bersama, tugas guru tidak hanya pada mengajar tapi juga bertanggung jawab atas urusan administrasi sekolah. Seperti kearsipan, pendataan kehadiran guru dan murid, rapat dan pencatatan lain yang berkaitan dengan sejumlah lembaga.Meski proses belajar mengajar dilakukan online, namun beban administrasi sama sekali tidak berkurang. Bahkan cenderung bertambah. Hal ini mengakibatkan beban pekerjaan yang harus dilakukan guru juga semakin tinggi.

Baca Juga: 7 Cara Mengajar yang Baik, Efektif untuk Siswa SD Hingga SMA

3 Langkah Mengatasi Burnout Pada Guru

Bila burnout tidak ditangani dan beban psikologis dibawa hingga proses mengajar, maka akan merusak kualitas belajar mengajar dan relasi antara murid dan guru itu sendiri. Agar tidak menjadi permasalahan, berikut tips guru untuk mengatasi burnout yang terjadi di masa pandemi:

  1. Identifikasi DiriBanyak guru tidak sadar jika sedang mengalami kelelahan fisik dan mental. Padahal hal tersebut telah memicu stress. Jika Anda tidak tahu seperti apa ciri-cirinya, berikut adalah sejumlah gejala stres yang kerap dialami para pekerja:
  • Merasa jengkel terus menerus.
  • Sering mengalami sakit kepala.
  • Insomnia.
  • Menarik diri dari rekan kerja.
  • Sering mengalami konflik di tempat kerja atau di rumah.
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Sering absen.

Baca Juga: Manfaat Pentingnya Mengikuti Komunitas Guru

  1. Cara Pemulihan Setelah Anda menyadari adanya masalah pada kesehatan mental, segera lakukan pemulihan. Ada berbagai cara untuk menata kembali kondisi mental Anda. Misalnya dengan lebih banyak beribadah, melakukan hobi, menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga, mengerjakan hal yang Anda suka hingga berolahraga.

    Semua kegiatan positif tersebut dapat membantu Anda keluar dari kondisi burnout akibat pekerjaan.

  2. Minta Bantuan ProfesionalJika Anda tidak dapat memulihkan kondisi mental sendiri, tidak ada salahnya untuk meminta bantuan profesional. Ceritakan permasalahan ini pada petinggi sekolah dan minta yang bersangkutan untuk membantu menyediakan tenaga konseling profesional.

Masalah kesehatan mental adalah hal yang serius, seperti burnout yang bisa mengurangi produktivitas Anda sebagai seorang guru. Jadi, jangan ragu dan jangan malu untuk mengungkapkan beban yang sedang Anda pikul selama masa pembelajaran di era pandemi ini, agar menciptakan pelaksanaan belajar mengajar yang ideal.