Model Pembelajaran Jigsaw dan Keuntungan Menerapkannya
Beranda / Edukasi / Model Pembelajaran Jigsaw dan Keuntungan Menerapkannya
Model Pembelajaran Jigsaw dan Keuntungan Menerapkannya

Model Pembelajaran Jigsaw dan Keuntungan Menerapkannya

Salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar adalah model pembelajaran yang dipimpin oleh guru atau pengajar. Bagaimana proses pembelajaran tersebut berlangsung, sangatlah bergantung pada kemampuan guru atau pengajar dalam menggunakan model pembelajaran, salah satunya model pembelajaran jigsaw.

Paling ideal, model pembelajaran yang diterapkan guru beragam dan tidak terpaku pada satu model saja. Agar nantinya murid merasakan pengalaman belajar yang beragam dan termotivasi untuk belajar.    

Apa itu model pembelajaran? Secara umum model pembelajaran adalah perencanaan, proses pembelajaran dan pasca-pembelajaran yang dipilih guru ketika menyampaikan pelajaran di dalam kelas. Terkadang, guru menggunakan atribut untuk mendukung proses pembelajaran. 

Bagaimana metode pembelajaran disampaikan? Biasanya model pembelajaran yang umum disampaikan berbentuk ceramah, ekspositori hingga tanya jawab dan masih banyak lainnya. Dengan beragamnya model pembelajaran yang diterapkan saat ini, model pembelajaran jigsaw  menjadi metode yang sering digunakan.

Nah, untuk lebih memahaminya dan bagaimana penerapannya, yuk simak artikel berikut ini. 

Apa itu Model Pembelajaran Jigsaw?

Model pembelajaran jigsaw pertama kali diperkenalkan pada tahun 1978 oleh Elliot Aronson’s di Amerika Serikat. Elliot menerapkan model pembelajaran ini kepada mahasiswanya di universitas berbeda yakni: University of Texas dan University of California. Ketika pertama kali diperkenalkan, Elliot menjelaskan bahwa model pembelajaran jigsaw terinspirasi dari kondisi lingkungan di negaranya. 

Semasa itu menurut Elliot Amerika sangat rentang konflik rasial dan salah satu cara untuk meredam dan mengurangi konflik tersebut bisa dilakukan lewat pendidikan. 

Elliot selanjutnya menggunakan model pembelajaran jigsaw dengan membentuk siswa dalam satu kelompok. Selanjutnya dalam satu kelompok tersebut akan bekerjasama dalam sejumlah penugasan materi belajar. Anggota kelompok harus saling aktif menerima pelajaran dan memecahkan masalah atas materi yang diberikan. 

Baca lagi: Mengintip Langkah Jepang Menyiapkan Pendidikan untuk Menghadapi Society 5.0

Strategi model pembelajaran jigsaw membuat setiap siswa memegang peran penting dalam penyelesaian tugas dan pemahaman pembelajaran. Berada dalam satu kelompok dengan perbedaan latar belakang seperti suku, ras, jenis kelamin hingga kemampuan memaksa mereka untuk menerima dan saling berkolaborasi dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. 

Selanjutnya murid memainkan peran di kelompok tersebut dengan saling melempar ide, membuat strategi pembelajaran yang cocok dengan mereka. Saat mereka memaparkan sebuah gagasan atau memecahkan sebuah persoalan, masing-masing bertanggung jawab atas sub kategori yang dipilih.  

Lalu dimana peran guru dalam model pembelajaran jigsaw? Guru memfasilitasi dan memotivasi para anggota kelompok dan mendorong agar murid dapat memahami materi yang diberikan. 

Pada akhir dari materi yang disampaikan, sebagai bagian dari evaluasi dan tolak ukur pemahaman murid, guru kemudian memberikan tes individual di akhir pembelajaran atas topik yang telah didiskusikan.  

Apa Keuntungan dan Tantangan Menerapkan Metode Ini

Semangat kebersamaan untuk mencapai sebuah misi membentuk karakter murid yang belajar dengan model pembelajaran jigsaw cenderung mudah bersosialisasi. Mereka akan lebih mudah untuk menerima serta menghargai perbedaan, karena menyadari teman mereka memiliki keunikan sendiri. 

Hanya itu? Banyak keuntungan yang didapat murid dan guru dalam penerapan model pembelajaran jigsaw. Apa saja itu? Berikut rinciannya: 

1.Kepribadian murid jadi lebih baik 

Berdiskusi secara intens akan membuat satu sama lain akan mengembangkan kepribadian murid. Mereka akan lebih menghargai pendapat orang lain, memiliki sikap toleransi yang tinggi hingga menerima kekurangan atau perbedaan antar individu. 

2. Murid jadi lebih aktif 

Berada dalam satu kelompok akan membuat murid jadi lebih termotivasi dalam belajar. Mereka akan saling bekerja sama dan membantu teman mereka untuk bisa mencapai standar yang diharapkan. Murid akan terbiasa mempraktikkan peer teaching, yang mengharuskan mereka memahami materi pada tingkat yang lebih dalam daripada yang biasanya. 

3. Punya semangat untuk berkontribusi 

Karena berada dalam sebuah kelompok yang saling membangun, murid akan berusaha menjadi pribadi yang memiliki pengaruh kuat terhadap lingkungan sosialnya. Maka, akan tercipta keinginan untuk berkontribusi. Walhasil, setiap murid akan berusaha untuk mengembangkan keahlian mereka dan berkontribusi untuk saling berbagi informasi. 

4. Terencana 

Ketika guru menyampaikan materi pelajaran kemudian melemparkannya ke murid untuk didiskusikan, otomatis murid yang berada di kelompok mulai mempersiapkan diri mereka ketika nantinya harus menyelesaikan sebuah tantangan atau materi pembelajaran. Setelah masing-masing mereka mempersiapkan diri, selanjutnya secara otomatis akan berdiskusi untuk menetapkan tujuan bersama. 

Baca lagi: Cara Guru dan Orang Tua Meningkatkan Minat Baca Siswa

Meski model pembelajaran jigsaw cukup ideal diterapkan di dalam kelas untuk mendorong partisipasi murid, namun harus diakui dalam implementasinya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Berikut tantangan yang harus dihadapi dalam penerapannya: 

  1. Murid mencapai standar yang sama 

Butuh waktu lama untuk murid bisa menerima model pembelajaran jigsaw. Sebab, perlu ada penyesuaian dengan metode pembelajaran yang mereka biasa dapatkan. Apalagi standar murid berbeda-beda dalam kemampuan menerima pelajaran, selain itu tidak semua murid dapat bekerja secara kelompok. 

2.Tanggung jawab tak rata 

Dalam sebuah kelompok yang dibentuk, biasanya akan ada salah satu pemimpin yang ditunjuk oleh anggotanya. Pemimpin tersebut nantinya akan menjadi wakil dari kelompok tersebut untuk menampilkan gagasan atau rencana mereka dalam sebuah proyek. Karena berpusat pada satu orang yakni pemimpin tersebut, membuat anggotanya hanya bergantung pada pemimpinnya.

3. Sulit untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa 

Guru akan kesulitan menilai kemajuan siswa satu persatu dengan model pembelajaran kelompok. Sebab proses penyusunan gagasan, eksekusi semua terjadi diserahkan pada kelompok tersebut atau pimpinan dari kelompok tersebut. Guru butuh waktu lama untuk mengetahui dan memutuskan nilai, kepribadian siswa. 

4. Siswa aktif vs Siswa pasif 

Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi. Sehingga akan membuat sebagian siswa yang pasif cepat bosan, bahkan murid yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran.  

Bagaimana Contoh Penerapannya?

Kini Anda semakin tertarik untuk menerapkan model pembelajaran jigsaw, tapi Anda perlu menerapkan strategi sebelum mulai menerapkannya di jelas. Agar sukses berikut contoh penerapannya yang bisa Anda tiru: 

Fokus pada individu dulu baru kelompok 

Agar dalam satu kelompok tersebut, murid dapat berperan sesuai dengan keahliannya dan terjadi perkembangan yang setara maka guru harus lebih dulu mengetahui kelebihan dan kekurangan secara individu muridnya. Sebelum mereka berada dalam satu kelompok, persiapkan mereka dengan bekerja secara mandiri menyampaikan ide gagasan di depan kelas. 

Bagi kelompok berdasarkan penilaian Anda 

Setelah Anda melakukan pengamatan dan penilaian terhadap masing-masing murid. Langkah selanjutnya adalah membagi kelompok secara merata, dalam satu kelompok terdapat empat sampai lima murid. Selanjutnya, berikan materi pelajaran atau penelitian secara kelompok dan lanjutkan untuk setiap kelompok mempresentasikan hasilnya di depan kelas. 

Baca lagi: 9 Teknik Manajemen Kelas yang Terbukti Berhasil Ketika Diterapkan

Jigsaw dalam kelompok 

Sekarang waktunya menerapkan model pembelajaran jigsaw di kelompok tersebut. Setiap kelompok yang sudah Anda bagi untuk menjelaskan pada hasilnya di kelas, berikan dorongan untuk setiap anggota dalam kelompok tersebut agar mengambil peran ketika mempresentasikan tugasnya. 

Menetapkan penilaian

Hasil akhir dari model pembelajaran jigsaw tentu adalah nilai muri di akhir pelajaran. Pada tahap  ini, guru harus dapat menilai mulai dari proses pembelajaran hingga hasilnya. Penilaian ini untuk memastikan murid mencapai pemahaman tentang seluruh konten yang dipelajari. Terkait penilaian murid, guru harus secara transparan untuk pemberian nilainya. Jadi, pada awal dimulainya model pembelajaran jigsaw, tetapkan standar dan informasikan kepada murid. Supaya mereka tergerak untuk berinvestasi sejak awal. 

Nah, sudah membaca seluruh artikel secara runtut dari awal sampai selesai, semoga bisa membantu Anda dalam menerapkan model pembelajaran jigsaw ya!