Menghilangkan Budaya Mencontek dengan Bantuan Teknologi Pendidikan
Beranda / Edukasi / Menghilangkan Budaya Mencontek dengan Bantuan Teknologi Pendidikan
Menghilangkan Budaya Mencontek dengan Bantuan Teknologi Pendidikan

Menghilangkan Budaya Mencontek dengan Bantuan Teknologi Pendidikan

Ujian merupakan salah satu metode yang digunakan guru atau sekolah untuk memantau pengetahuan siswa terhadap suatu mata pelajaran. Oleh karenanya, pelaksanaan ujian haruslah dilakukan secara jujur dan apa adanya. Jika dilakukan dengan curang, misalnya dengan mencontek atau menyalin jawaban, maka fungsi ujian menjadi tidak berjalan.

Di era pembelajaran daring, salah satu tantangan yang dihadapi guru adalah meningkatnya potensi ketidakjujuran dalam pelaksanaan ujian. Penanganan yang tepat pun diperlukan agar mencontek tidak menjadi kebiasaan yang tumbuh di kalangan siswa. Terlebih karena kebiasaan tersebut akan sangat merugikan perkembangan akademik, bahkan masa depan siswa itu sendiri.

Selain dapat membuat siswa yang bersangkutan terancam tidak lulus mata pelajaran atau mendapatkan rapor merah, ada sejumlah dampak negatif bagi siswa yang diakibatkan oleh kebiasaan mencontek, yakni:

  • Kebiasaan mencontek akan membuat siswa kehilangan rasa percaya diri akan kemampuannya.
  • Siswa yang terbiasa mencontek kehilangan minat untuk belajar dan memahami materi pelajaran.
  • Kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis, tidak mampu memecahkan masalah dan mencari solusi.
  • Kebiasaan tidak jujur akan terbawa hingga dewasa dan dapat memicu tindakan/perbuatan melanggar hukum.
  • Jika perbuatannya diketahui, siswa yang bersangkutan akan diremehkan oleh sesama siswa.

Baca Juga: Cara Guru dan Orang Tua Meningkatkan Minat Baca Siswa

Itulah sejumlah dampak buruk yang dapat terjadi pada siswa yang mengembangkan kebiasaan mencontek. Bicara mengenai tindakan mencontek, rupanya ada berbagai perbuatan yang juga masuk dalam kategori curang yang tidak boleh dilakukan siswa selama ujian. Berikut ini beberapa di antaranya:

  • Berkomunikasi dengan cara apapun selama ujian dengan orang lain yang bukan pengawas, baik di dalam maupun luar ruang ujian.
  • Memberikan atau memperoleh bantuan dari orang lain yang bukan pengawas ujian.
  • Membaca atau menyalin jawaban ujian siswa lain atau dengan sadar membiarkan siswa lain untuk melakukan hal tersebut.
  • Mendapatkan, atau berusaha mendapatkan, memiliki atau menyebarkan materi ujian tanpa persetujuan guru/sekolah.
  • Menggunakan atau menjadi joki ujian.

Bagaimana Siswa Mencontek dalam Ujian Online?

Dalam pembelajaran daring, pelaksanaan ujian tentu saja dilakukan secara online. Tidak hanya bersifat closed book yang dijalankan dengan pengawasan melalui webcam, tidak sedikit guru atau sekolah yang menerapkan ujian secara open-resource/book

Artinya, siswa dapat mengakses materi pelajaran baik dari buku maupun internet saat ujian berlangsung. Lalu, seperti apa modus mencontek yang banyak dilakukan siswa saat ujian online

Berikut ini merupakan hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai tindakan mencontek atau perbuatan curang selama ujian online:

  • Menyalin kata-kata dari modul yang diberikan guru atau tulisan orang lain di internet  atau hasil pekerjaan siswa lain tanpa memiliki pemahaman mengenai materi yang diujikan. Hal ini juga dikenal sebagai plagiarisme.
  • Mengerjakan ujian secara bersama sama dengan siswa lain dengan screen sharing.
  • Meminta orang lain untuk mengerjakan ujian, contohnya ayah, ibu atau kakak.
  • Menyebarkan hasil ujian pada siswa lain melalui sosial media atau aplikasi chat.
  • Menggunakan jawaban dari forum online atau aplikasi belajar.
  • Membayar orang lain untuk mengerjakan sebagian atau seluruh ujian.

Baca Juga: Panduan Membuat Program kerja Kepala Sekolah Tahun Akademik 2021/2022

Bagaimana Teknologi dapat Mencegah Perilaku Curang dalam Pendidikan?

Guru dapat memanfaatkan teknologi untuk mencegah atau mengurangi potensi kecurangan saat ujian. Berikut ini sejumlah contohnya:

1. Berikan Soal Acak untuk Tiap Siswa

Untuk mengurangi kemungkinan murid mengerjakan soal bersama-sama, buat soal unik untuk masing-masing peserta ujian. Dengan soal yang berbeda untuk tiap peserta ujian, maka siswa akan dipaksa untuk fokus mengerjakan soalnya sendiri. Saat ini sudah tersedia aplikasi pembuat soal ujian yang mampu membuat soal dengan berbeda.

2. Gunakan Batasan Waktu

Aplikasi soal ujian juga dapat diatur sehingga peserta memiliki waktu terbatas untuk mengerjakan masing-masing soal. Dengan cara ini, siswa tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan screen sharing, menggunakan aplikasi belajar atau bertanya pada siswa lain menggunakan chat.

3. Pembatasan Internet Protocol (IP)

Sejumlah aplikasi pendidikan juga dapat membatasi alamat IP peserta ujian yang dapat mengakses aplikasi. Dengan cara ini, device yang tidak didaftarkan ke sekolah tidak dapat membuka aplikasi dan mengerjakan ujian. Cara ini efektif untuk mencegah orang lain dengan device berbeda mengerjakan soal ujian siswa yang bersangkutan.

4. Gunakan Microsoft Word/ Google Docs Sebagai Lembar Jawab

Dengan menggunakan Microsoft Word atau Google Docs, guru dapat memeriksa history lembar jawaban siswa. Dengan cara ini, guru dapat mengetahui jika lembar jawaban diisi oleh dua akun yang berbeda.

5. Gunakan Plagiarism Checker

Jika seorang siswa yang memiliki rekam akademik kurang baik dalam pelajaran bahasa atau menulis mengumpulkan ujian dengan kualitas bahasa di atas rata-rata, siswa yang bersangkutan bisa saja menyalin jawaban tersebut dari internet. Gunakan plagiarism checker untuk mengetahui apakah jawaban yang diberikan murni dikerjakan siswa atau tidak. Aplikasi ini secara otomatis akan memberitahu jika hasil jawaban merupakan hasil tulis ulang.

Baca Juga: Mengintip Langkah Jepang Menyiapkan Pendidikan untuk Menghadapi Society 5.0

Memberi Koreksi, Bukan Hukuman

Saat menghadapi murid yang terbukti curang, memberi hukuman seharusnya menjadi pilihan terakhir. Tindakan yang terutama adalah melakukan koreksi terhadap perilaku tersebut. Sebab, jika guru hanya fokus menghukum, tanpa mengetahui alasan di balik kebiasaan mencontek dan tanpa fokus memperbaiki perilaku, maka murid yang bersangkutan justru akan tumbuh sebagai pencontek yang lebih lihai lagi.

Lantas, apa saja hal yang dapat dilakukan guru untuk melakukan koreksi? Berikut ini beberapa hal di antaranya:

  • Bicara Empat Mata dengan Murid

Jika menemukan siswa mencontek, jangan permalukan dia di depan teman-temannya. Bicaralah empat mata setelah ujian. Perlihatkan bahwa Anda sangat serius tanpa perlu menunjukkan amarah. Alih-alih memaksa murid untuk mengakui perbuatannya, yang bisa saja disangkal, cobalah untuk menjelaskan apa yang Anda lihat dan betapa kecewanya Anda terhadap tindakan murid.

  • Cari Tahu Alasan di Balik Perbuatan Mencontek

Agar langkah-langkah penanganan tepat, temukan alasan di balik perbuatan murid. Apakah ada kebiasaan atau cara belajar yang tidak tepat, tekanan dari orang tua, hingga kecemasan-kecemasan tertentu. Setelah mengetahui alasannya, tentukan pendekatan yang tepat, misalnya memberi tutor privat, memberi motivasi hingga berbicara langsung dengan orang tua atau wali murid.

  • Diskusikan dengan Orang Tua

Informasikan pada orang tua mengenai temuan Anda. Saat membahas perilaku murid, ajak orang tua untuk mengoreksi dan bukan sekadar menghukum. Jika perbuatan curang dilakukan karena tekanan keluarga, berikan pemahaman pada orang tua. Dorong juga orang tua murid agar lebih terlibat pada proses pembelajaran.