4 Alasan Jelajah Ilmu Dapat Mengurangi Beban Kerja Guru yang Berlebih
Beranda / Edukasi / 4 Alasan Jelajah Ilmu Dapat Mengurangi Beban Kerja Guru yang Berlebih
4 Alasan Jelajah Ilmu Dapat Mengurangi Beban Kerja Guru yang Berlebih

4 Alasan Jelajah Ilmu Dapat Mengurangi Beban Kerja Guru yang Berlebih

Dalam dunia pendidikan kita sekarang, guru merupakan sumber daya yang paling penting di sebuah sekolah. Jika guru memiliki kompetensi dan berpengalaman, murid yang diajar pasti akan sukses secara akademik. Hal ini telah didukung oleh banyak penelitian.

Salah satunya dilakukan pada tahun 2018 oleh Programme for International Student Assessment (PISA), sebuah lembaga survei dan pemeringkat kualitas pendidikan di dunia menemukan hubungan antara kualitas guru dan mutu pendidikan di suatu negara.

Riset tersebut menjelaskan, murid yang diajar oleh guru-guru berkualitas terbaik cenderung sukses dalam kehidupan akademik dan di dunia kerja selepas mereka lulus sekolah. Sejumlah negara yang mengalami perbaikan kualitas pendidikan seperti Polandia, Brazil dan Israel ternyata memiliki kebijakan pendidikan yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan dan keterampilan guru. Polandia, contohnya. 

Negara yang berhasil meningkatkan jumlah raihan hasil test positif sebesar 10% ini memiliki kebijakan baru berupa insentif bagi para guru. Sedangkan Brazil yang sukses meningkatkan perbaikan skor matematika dan sains memiliki program peningkatan gaji guru, penambahan SDM guru dan memperbanyak program pelatihan untuk guru. 

Begitu juga dengan Israel yang performa siswanya meningkat di bidang matematika dan sains,memiliki program peningkatan gaji hingga dua kali lipat bagi guru junior, mencanangkan program karier yang terstruktur dan 60 jam minimal pelatihan bagi para guru selama setahun.

Selain kesejahteraan dan program peningkatan kompetensi melalui pelatihan, tingginya beban kerja guru juga sangat berpengaruh terhadap kualitas pengajaran yang diberikannya. Akibat fokus menyelesaikan pekerjaan administrasi, banyak guru di Indonesia tidak punya waktu cukup untuk belajar dan meningkatkan kompetensinya.

Contoh pekerjaan administrasi guru yang cukup membebani di antaranya adalah:

  • Pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
  • Proses dan evaluasi pembelajaran.
  • Pelaporan hasil pembelajaran.

Tidak heran jika berdasarkan data UNESCO dalam Global Education Monitoring (GEM) Report 2016, kualitas guru di Indonesia berada di urutan terakhir dari 14 negara berkembang di dunia.

Sementara dalam hasil penelitian Research on Improving Systems of Education (RISE) terhadap 360 guru SD di Indonesia pada tahun 2018, hanya 12,43% guru yang menguasai materi pengajaran literasi baca tulis dan 21,27% guru yang menguasai materi pengajaran matematika.


Baca Juga: 10 Sekolah Internasional Terbaik di Jakarta

Beban Guru yang Bertambah di Era Pandemi

Di awal tahun 2020, pandemi memaksa sekolah untuk menghentikan seluruh aktivitas pembelajaran tatap muka. Sebagai gantinya, sekolah melaksanakan pembelajaran daring. Hingga sekarang, sekolah pun masih menerapkan pembelajaran daring di era pembelajaran tatap muka terbatas. Kondisi yang tetap mengharuskan dilaksanakannya pembelajaran daring ini juga menambah beban kerja guru.

Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan Litbang Kompas pada September 2021 terhadap 503 responden, sejumlah hal paling menyita perhatian guru di era pembelajaran daring adalah:

– Menyusun bahan pembelajaran  yang lebih kreatif dan interaktif (18,6%).

– Berinteraksi dengan murid (22,3%).

– Kemampuan menjelaskan materi (12,7%)

– Kemampuan menggunakan teknologi (12,6%)

Dari sekian poin permasalahan di atas, pekerjaan menyiapkan bahan ajar digital serta keharusan untuk menguasai sejumlah teknologi benar-benar menyita waktu guru. Banyak guru akhirnya harus bekerja di luar jam kerja untuk menyiapkan bahan presentasi, video pembelajaran hingga mempelajari cara menggunakan sebuah aplikasi atau fitur digital.

Baca Juga: Kisah 5 Sekolah yang Berhasil Menerapkan Inovasi Pembelajaran Saat Pandemi

Solusi Pemerintah Mengurangi Beban Kerja Guru

Pemerintah sebenarnya sadar akan tingginya beban kerja para guru di Indonesia. Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan memberikan instruksi agar guru lebih fokus untuk mengajar ketimbang mengurusi pekerjaan administrasi. Dalam hal regulasi, pemerintah tengah menggodok pelonggaran beban kerja guru melalui penghapusan ketentuan kerja minimum. 

Kebijakan itu tercantum dalam Pasal 70 draft RUU Cipta Kerja yang merevisi sejumlah pasal dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Salah satunya adalah Pasal 35 ayat 2 yang menyebutkan, beban kerja guru dalam melaksanakan proses pembelajaran sekurang-kurangnya 24 jam tatap muka dalam 1 minggu”.

Selain itu, RPP yang sebelumnya mencapai 3 halaman dengan jumlah 13 komponen di dalamnya, diringkas menjadi hanya satu halaman saja sehingga beban administrasi guru bisa lebih berkurang.

Jelajah Ilmu Sebagai Solusi Tingginya Beban Kerja Guru

Meskipun pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang meringankan beban kerja guru, di lapangan para guru masih berkutat dengan banyaknya persoalan administrasi. Namun, Jelajah Ilmu sebagai sebuah solusi dapat memberikan kemudahan kepada guru, murid, kepala sekolah, dan orang tua dalam proses pembelajaran era baru melainkan dapat meningkatkan pengalaman akademis baik secara online, tatap muka maupun hybrid.

Apa saja solusi yang dapat diberikan Jelajah Ilmu untuk mengurangi beban kerja guru? Berikut ini ulasannya:

  1. Materi Pembelajaran Sudah Tersedia

Seperti yang disinggung sebelumnya, salah satu beban administrasi guru yang bertambah di era pandemi adalah keharusan untuk menyiapkan materi pembelajaran digital untuk kebutuhan pembelajaran jarak jauh/daring. Melalui Jelajah Ilmu, para guru tidak perlu lagi membuat materi pembelajaran dari awal. Sebab, di Jelajah Ilmu sudah tersedia bahan presentasi digital yang sesuai dengan materi pelajaran yang ingin disampaikan. Guru hanya tinggal perlu memberikan tambahan atau perubahan dari template yang ada sehingga bisa jauh lebih menghemat waktu.

Baca Juga: Belajar dari Suksesnya Sistem Pendidikan Dasar dan Menengah di Jepang untuk Pendidikan di Indonesia

  1. RPP dalam Setiap Konten

Di jelajah ilmu, RPP bisa langsung diakses di konten yang sudah disiapkan. Cukup membuka konten/ebook dari mata pelajaran tertentu, guru sudah bisa mengakses RPP dan melihat tujuan pembelajaran, sumber belajar, kegiatan belajar maupun asesmen atau penilaian terhadap pelajaran tersebut.

  1. Pemberian Tugas dan Penilaian Otomatis

Salah satu pekerjaan administrasi yang juga menyita waktu guru adalah pemberian tugas dan melakukan penilaian. Di Jelajah Ilmu, guru tidak perlu lagi meluangkan banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Sebab, untuk kebutuhan tugas, guru bisa langsung memberikannya dari buku digital yang ada. Canggihnya lagi, murid bisa langsung mendapatkan nilai setelah menyelesaikan tugas dan guru bisa mengunduh nilai maupun pekerjaan murid dari dashboard Jelajah Ilmu.

  1. Lembar Soal Swa Nilai

Guru juga bisa membuat lembar ujian langsung dari buku digital yang ada untuk kebutuhan ulangan, ujian, pop quiz dan lain sebagainya. Lembar ujian ini juga bisa dibuat sebagai lembar ujian yang swa nilai. Sehingga, guru tidak perlu lagi mengoreksi dan memberi nilai satu per satu.
Nah, itulah sekilas penjelasan mengenai fitur-fitur Jelajah Ilmu yang dapat menghemat waktu para guru. Jika sebagai kepala sekolah maupun manajemen sekolah Anda tertarik mengintegrasikan platform ini, segera hubungi Jelajah Ilmu sekarang juga dan tingkatkan kualitas pendidikan di sekolah Anda.